Sambungan "Menyambut Pagi"
Pagi ini aku lihat cuaca begitu cerah, setelah tadi pagi kabut sempat menutupi sebagian wilayah cianjur tetapi sekarang aku sudah dapat melihat dengan begitu jelas sebuah pemandangan yang mempesona di balik keangkuhannya yang menjulang tinggi. Begitu dekat dan begitu jelas lekukan-lekukan pegunungan Gede Pangrango yang kulihat sekarang, beda sekali ketika kulihat dari kampung halamanku disudut sana yang terlihat hanyalah siluet pegunungan yang menjulang tinggi mencakar dan menembus awan. Setelah selesai belanja keperluan logistik walau hanya beberapa mie instan dan ikan asin pagi itu aku melanjutkan perjalananku dengan sisa uang hanya 6.000 Rupiah.
Pagi itu aku berjalan kaki dari alun-alun cianjur kearah selatan, setelah kira-kira satu jam perjalanan menyusuru jalan beraspal di kota cianjur dan dikarenakan susahnya mencari tumpangan gratis akhirnya aku memutuskan untuk menumpang angkutan umum dengan sisa uang yang aku punya. Setelah menemukan angkutan umum akupun naik angkutan tersebut. Aku berhenti di perempatan jalan yang menuju arah Gunungputri, setelah membayar ongkos akupun melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki walau masih berada di wilayah perkampunga tapi kondisi jalan disana adalah menanjak yang menguras banyak tenaga. Tak terasa aku sudah berjalan jauh sekali mungkin sekitar 2 jam aku berjalan diantara bukit-bukit pertanian warga, ternyata ucapan dekat yang dikatakan petani waktu tadi tak sebanding dengan kenyataan. Sudah hampir dua jam tapi jangankan berada dikaki gunung pertengahannya-pun aku kira belum sampai.
Sejenak aku beristirahat diatas bebatuan, aku rebahkan tubuhku sambil mengambil napas dalam-dalam walau seluruh badan terasa sakit terutama kakiku yang lecet karena sepetu tentara yang akai pakai ini belum bersahabat dengan kakiku. Hari itu adalah hari Jum'at, kulihat Kaum muslim laki-laki berduyun-duyun pergi ke masjid sementara ibu-ibu baru saja selesai membersihkan rumput di ladang pertaniannya, mayoritas pertanian disana adalah sayuran seperti wortel, kol, tomat dan sayuran lainnya. Sebelum melanjutkan perjalanan aku terlebih dahulu makan makanan yang tadi aku beli dari pasar, walau hanya mie instan dan tanpa dimasak terlebuh dahulu tapi setidaknya bisa menahan rasa laparku saat itu.
Akupun melanjutkan perjalanan ketika Azan berkumandang, dengan menyusuri tebing yang curam dan perjalanan kembali aku lanjutkan. Kabut tiba-tiba turun begitu saja, dengan hanya jarak pandang sekitar 3 meter aku coba terus berjalan kaki dan salah sedikit saja jurang yang curam tersebut siap menjerumuskanku. Tidak berapa lama kabutpun mulai menipis dan perjalananku mulai lancar lagi dan ternyata tanpa kusadari sekarang aku sudah sampai dikaki gunung Gede. Aku bisa melihat di depanku gunung gede yag menjulang tinggi yang di selimuti lebatnya hutan yang menyimpan misteri. Aku melihat disebelah kananku ada sebuah bangunan, setelah aku perhatikan ternyata itu adalah pos jagawana. Sesuai peraturan seharusnya aku melapor terlebih dahulu tapi aku lebih memilih jalur ilegal karena aku sudah kehabisan uang untuk tiket masuk dan juga aku tidak memakai standar pendakian dan aku yakin aku bakalan di depak dan tidak diizinkan masuk.
Kabutpun turun lagi, kali ini lebih gelap dan lebih hitam dari kabut yang pertama tadi sehingga aku menggil kedinginan dan pakaian yang aku kenakan menjadi basah semua. Tapi dengan adanya kabut tersebut aku bisa dengan mudah masuk kawasan pegunungnan tanpa diketahui oleh petugas jagawana. Tepat dihadapanku sebuah gapura besar bertuliskan Taman Nasional Gede Pangrango sebagai pintu masuk dan titik awal pendakian.
Bersambung...