Salam Kenal;
Sebelumnya aku ingin mengucapkan puji syukur kepada Tuhan semesta Alam yang menciptakan kehidupan di bumi maupun kehidupan di dalam dimensi lainnya diluar antarksa sana. Sembah abdi kepada ibu pertiwi, keluargaku, sahabat serta orang-orang yang aku temukan dalam pengembaraanku ini.
Sebelum aku melanjutkan tulisanku ini, izinkanlah aku memperkenalkan diri. Namaku Odang Rodiana aku terlahir dari keluarga sederhana di sebuah sudut perkampungan yang damai, aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, saudaraku semuanya laki-laki, kakaku sudah menikah sedang adiku masih kelas satu Sekolah Dasar. Tak banyal yang aku dapatkan dari dunia pendidikan, aku hanya merasakan pendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar (SD) dan melanjutkan Paket B dua tahu sesudahnya. Aku terlahir disebuah sudut perkampungan di Kabupaten bogor sebuah perkampungan yang sunyi, damai dan jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk metropolitan. Mungkin tidak ada yang spesial dalam masa kecilku yang tak jauh beda dari kehidupan rakyat jelata lainnya.
Waktu kecil aku sering kebiasaan memberontak dan selalu menentang segala sesuatu yang tak dapat diterima dengan akal sehat dan tak jarang akupun di cap sebagai pembangkang orang tua dan kultur di daerahku, aku ingat ketika saat aku lulus Sekolah Dasar (SD) dimana saat itu sekolah menawarkan aku beasiswa untuk melanjutkan sekolah ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuaku dengan alasan yang tak dapat diterima dan bahkan tidak dapat aku mengerti sama sekali. Dua tahun setelah kejadian itu aku melanjutkan Kelas PaketB, dan setelahnya aku memutuskan merantau ke ibu kota dengan tujuan untuk mengais rezeki dengan segala harapan dan imaginasi dan bahkan mungkin mustahil bagi orang-orang yang lemah pendidikan sepertiku.
Tanpa terasa dinamika kehidupanku menempa aku menjadi seorang yang keras kepala, merasa hebat dan segala bentuk kesombongan lainnya. Perlu kalian tahu salah satu hobiku semenjak kecil adalah berkemah, entah itu di sawaah hutan ataupun tempat-tempat sepi lainnya, bahkan aku pernah berhasil membujuk teman-temanku untuk mengikuti hasrat gilaku yaitu berkemah ditengah-tengah pulau yang terkenal angker disebuah danau di desa Kami yang saat itu usiaku kira-kira baru 15 tahun.
Hari berganti bulan dan bulanpun berganti tahun, saat itu usiaku sekitar dua puluh tahun, setelah aku merasa gagal dalam pergulatan harapan dan imaginasiku di ibukota serta berbagai macam masalah Psikologis mulai dari masalah keluarga sampai kegagagalan dam urusan asmara, akhirnya pada suatu malam di tengah-tengah keputus-asaan dan demoralisasi akan hidup selama ini, aku memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan. Dengan hanya bermodalkan niat dan berbekal ransel dan uang sebesar 28.000 Rupiah aku bertekad mencari sebuah jawaban atas kegelisahan-kegelisahanku selama ini, kegelisahan yang selalu menemani malam-malamku ketika orang-orang terlelap dalam mimipi-mimpinya. Dinihari ketika orang-orang terlelap dalam buaian mimpi-mimpi malam aku sudah bersiap meninggalkan kampung halaman untuk mencari sebuah jawaban yang tak pasti, aku berpikir mungkinkah di balik gunung, di dasar lembah atau mungkin di ujung bumi sana aku bisa menemukan sebuah jawaban yang tak bisa aku temukan didalam hiruk-pikuk ibu kota tempat aku merantau selama ini. akhirnya dengan tekad yang bulat aku meninggalkan keluarga, kawan dan kehidupan remaja seumuranku untuk mencari jawaban-jawaban terebut.
Berjalan dan berjalan ketika itu yang dapat aku lakukan, aku ingin segera meninggalkan jauh semua beban hidupku saat itu. Pernah juga beberapa kali aku mencoba meminta tumpangan gratis tapi belum ada satupun pengemudi yang baik hati yang bersedia menberikan tumpangan gratis. Aku lihat arloji ditanganku menunjukan jam 4:30 pagi dan tak terasa aku sudah berjalan jauh meninggalkan kampung halamanku. Tepat disebuah persimpangan diantara dua desa yang telah aku lalui ada mobil bak terbuka yang berhenti dan bersedia memberikan tumpngan gratis kepadaku. Sejenak aku dapat beristirahat dalam perjalanan tersebut ditemani dinginnya udara pagi dan semburat cahaya fajar di ufuk timur.
Kota pertama yang aku singgahi adalah kota Cianjur, aku berhenti tepat di alun-alun kota cianjur, setelah aku mengucapkan terimaksih kepada sopir yang baik hati tersebut akupun melanjutkan perjalananku sampai kira-kira jam 6:00 pagi aku berhenti disebuah warung kecil di pinggir jalan untuk membeli sarapan pagi. Sarapan pagi waktu itu terasa sangat istimewa bagiku, tak ada nasi hangat buatan ibuku atau nasi uduk langgananku yang biasa menjadi sarapan pagiku, tapi pagi ini sarapan pagiku hanyalah sebuah roti pasar seharga 500 perak dan sebotol air mineral yang sengaja aku bawa dari rumah. Lama aku melamun mau kemana aku ini, tanpa tujuan yang jelas dan hanya bermodalkan uang 28.000 Rupiah di kantongku. Tanpa kusadari muncul sebuah pemandangan eksotis dari balik kabut tebal di ujung selatan di pagi itu. Sebuah pemandangan yang sebenarnya sering aku lihat dari kampungku sendiri sebuah pemandangan gunung yang menjulang tinggi dengan sejuta misteri dibalik keangkuhannya, tak banyak yang aku tahu tentang gunung tersebut. Seketika hasrat berpetualang alam bebasku kembali kambuh, petualangan untu menembus batas-batas imaginasiku tanpa pikir panjang akupun memutuskun untuk melihat lebih dekat keangkuhan gunung tersebut, merabanya, menghirup hembusan angin dinginnya bahkan mendakinya.
Kota pertama yang aku singgahi adalah kota Cianjur, aku berhenti tepat di alun-alun kota cianjur, setelah aku mengucapkan terimaksih kepada sopir yang baik hati tersebut akupun melanjutkan perjalananku sampai kira-kira jam 6:00 pagi aku berhenti disebuah warung kecil di pinggir jalan untuk membeli sarapan pagi. Sarapan pagi waktu itu terasa sangat istimewa bagiku, tak ada nasi hangat buatan ibuku atau nasi uduk langgananku yang biasa menjadi sarapan pagiku, tapi pagi ini sarapan pagiku hanyalah sebuah roti pasar seharga 500 perak dan sebotol air mineral yang sengaja aku bawa dari rumah. Lama aku melamun mau kemana aku ini, tanpa tujuan yang jelas dan hanya bermodalkan uang 28.000 Rupiah di kantongku. Tanpa kusadari muncul sebuah pemandangan eksotis dari balik kabut tebal di ujung selatan di pagi itu. Sebuah pemandangan yang sebenarnya sering aku lihat dari kampungku sendiri sebuah pemandangan gunung yang menjulang tinggi dengan sejuta misteri dibalik keangkuhannya, tak banyak yang aku tahu tentang gunung tersebut. Seketika hasrat berpetualang alam bebasku kembali kambuh, petualangan untu menembus batas-batas imaginasiku tanpa pikir panjang akupun memutuskun untuk melihat lebih dekat keangkuhan gunung tersebut, merabanya, menghirup hembusan angin dinginnya bahkan mendakinya.
Bersambung